PROFIL KOMUNITAS JAGUAR


  • Jaguar menapak dari bawah. Semula, malah bukan membikin teater, melainkan sekedar wadah yang hendak memberikan alternatif aktifitas yang konstruktif. Selebihnya, lebih banyak bersandar pada kewallahu a’laman-Nya.

    Maka soal nama pun, tak didesain dengan pertimbangan artistik sebagaimana nyeninya sebuah teater; —semisal Koma yang menandakan pencarian yang tiada henti, Bengkel Teater yang merupakan gudang perbaikan seni, Melarat yang menyiratkan kegetolan orang-orang teater meskipun berangkat dari kemiskinan, atau mandiri yang menandaskan tentang sebuah kemandirian teater.

    Namun Jaguar, justru disambar dari tempat lahirnya wadah anak-anak muda yang pengin kreasi ini; Jagir Utara (JagUar) Wonokromo Surabaya. Sering orang melongo saat mendengar asbabun nuzul nama tersebut. Sebab di tabung pikiran mereka, telah lahir sebingkai obsesi tentang kegarangan binatang-binatang teateryang liar dalam medan pencarian di padang sahara kesenian.

    Apa boleh buat, kenyataan yang bilang bahwa kelahiran kami memang amat bersahaja. Uniknya, justru kebersahajaan itu yang membuat kami ingin terus menapak. Segala kritik, teguran, saran dan bahkan lecehan kami terima dengan keterbukaan hati yang lapang. Hasil dari pengodogan kritik itulah, yang membesarkan tekad kami untuk membikin sebuah teater. Maka, tepat pada tanggal 5 Agustus 1975 Jaguar resmi lahir sebagai sebuah teater.

    Banyak kendala dan ujian yng harus terlebih dahulu kmi lewati. Sehingga baru pda tahun 1978, TVRI Sta. Surabaya mempercayai kami untuk mengisi mata acara. Kepercayaan emas itu tak kami sia-siakan. Berbagai acara kami lakoni; mulai dari peringatan Hari Besar Islam dan Nasional, fragmen Agam Islam, drama remaja, drama televisi, drama komedi yang terformat dalam ‘senyum sejenak’. Oratorium, serta tayangan insidentil lainnya.

    Untuk medium televisi ini, Jaguar bekerjasama dengfan instansi terkait: Departement Agama, Departement Tenaga Kerja, Departement Sosial dan Departement Kehakiman, serta dengan Departemen P & K.

    Setelah berhasil merambah ke layar kaca, dua tahun kemudian kami menembus jalur radio. Dan bagai gayung bersambut, RRI Sta. Surabaya membukakan tangannya lebar-lebar. Dan kesempatan itu pun sampai kini masih terus berlanjut. Bahkan selain bidang drama , kami pun juga dipercaya untuk mengasuh acara Persinggahan Sastra dan Gelanggang Remaja.

    Pada 1982, kami mencoba untuk mentas di panggung besar. Naskah yang kami gelar pertama kali, adalah karya Luthfi Rahman ’Arya Penangsang’. Dan diluar dugaan kami, sambutan masyarakat seni waktu itu cukup menggembirakan. Tekad keyakinan kami semakin mantap, bahwa kami seharusnya juga mampu untuk ‘urun rembug’ karya kesenian di ladang kering perteateran Surabaya.

    Maka kami memutuskan sebuah statemen, bahwa setiap tahun Jaguar hendak mementaskan sebuah naskah untuk panggung besar. Dan nyatanya keputusan itu tak sia-sia. Hampir satu kali pun pada setiap tahunnya kami tak pernah absen.

    Tak hanya itu saja, sejak 1988 malah kami bertekad untuk mementaskan tulisan arek Jaguar sendiri. Setahun kemudian, keinginan itu baru terpenuhi dengan mementaskan naskah ‘Kurung Buka Kurung Tutup’ karya Ilung S. Enha. Bahkan dengan naskah inilah, Jaguar mengukir prestasi sebagai juara I pada Lomba Drama se Jawa Timur 1990 yang diselenggarakan oleh Harian Pagi Jawa Pos.

    Kami mengemas bentuk pementasan baru –yang sebenarnya sudah pernah kami mulai di tahun 1985-an; CERPUS (Cerita Puisi), yakni sebuah pementasan hasil perkawinan musikalisasi puisi , pembacaan cerpen dan drama dengan menyambar berbagai bentuk kesenian daerah seperti ludruk, kentrung, plesetan ketoprak, tembang langgaran dan kesenian lainnya.

    Kemasan baru ini ternyata mendapat respon dari masyarakat, lantaran lebih komunikatif dan improvisatoris. Bukan saja kalangan elite kampus kota kota yang kami jadikan ajang ujian, melainkan juga kami turba ke kampung-kampung dan desa-desa di Jawa Timur.
    Lantas ‘semacam keliaran’ untuk terus bereksprerimental mengawinkan format-format kesenian itu melanda jiwa kami.

    Lalu kami membaca ulang seribu peristiwa yang silih berganti menerpa kami, baik rasa kegagalan yang getir atau pun sanjungan tepukan yang membahana. Tak lain, Jaguar ingin menjadi sebuah teater yang senantiasa berjalan pada arus kesadaran; keseimbangan antara idealitas yang emosional dan realitas yang rasional.

    Selebihnya, jika Jaguar terus menapak hari depan keseniannya, kami tak bisa melupakan jerih payah dari Nicky Saur Sepuh Kosasih, Luthfi Rahman dan M. A. Chin, EM.Noeh, Gus Luthfillah Masduqi yang telah mencurahkan tenaga beserta ide-ide kreatifitasnya. InsyaAllah, Sang Maha Rahman senantiasa membalas setiap biji kebaikan para hamba-Nya. ***

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google

    You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: