Rumah itu bernama Jaguar

Pagi di tahun 1975.
Seorang Mahasiswa Kedokteran yang tak banyak bicara itu tiba-tiba mencetuskan sebuah kredo. Ia yang sekian lama resah dengan makin tergerusnya anak-anak muda dengan Pop Culture Barat, perilaku hedonia proletar kampungan, memutuskan : Sudah saatnya membuat sebuah wadah bagi libido kreativitas mereka agar vandalsm tidak berbiak, dan potensi yang laten bisa menemukan artikulasi.

Muhammad Noeh, sang mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga itu dengan telaten menghasut pemuda-pemudi kampungnya terutama aktivis remaja masjid untuk berkesenian.
Belakangan ia mengaku, sebenarnya bukan kesenian yang menjadi akar gerakan budayanya, melainkan Humaniora.

Pemahaman sejarah Teater Jaguar ini saya anggap penting, ketika di usia ke 28 ini, banyak stigma yang masih keliru.
Dari rahim Jaguar boleh saja muncul Budayawan Muslim macam Ilung Sufi Enha, Aktor Televisi handal macam Halim Faus, mas Hafids, mas Luthfi, dan mbak Farida Novel yang kini tinggal di Jerman Barat. Deklamator nasional macam Hj.Utami Budi dan mas Syarifudin Miftah. Juga logis, apabila Jaguar mampu melahirkan Sutradara Teater bernuansa kolosal macam EM.Noeh dan Lieswandi Poernomo, bahkan sanggup ikut membidani sutradara sinetron Jakarta yang cukup menjanjikan : Sofyan D.Surza, yang terlibat dalam penyutradaraan Film Petualangan Sherina, Pasir berbisik , Ada apa dengan Cinta, dan barusan menyelesaikan Serial Sinetron BORJU yang ditayangkan TransTV.

Namun, juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Jaguar, memiliki anggota-anggota yang berwirausaha secara mandiri, menjadi Pendidik, Karyawan biasa namun teguh dengan sikap budaya dan jujur diri selama menjalani bahtera rumah tangganya.

Heterogenitas anggota tersebut toh mencair ketika mereka bertaut dalam sebuah proses berkesenian dalam suasana persaudaraan yang tak pernah mereka temukan di ruang lain.

Inilah barangkali apa yang pernah disebut Meimura, sebagai kesadaran Rumah. Ia membedakan dengan komunitas kesenian atau anggota kelompok teater yang lain yang baru memiliki kesadaran Sanggar. Ia suatu kali pernah mengungkapkan rasa kagumnya pada teman-teman Jaguar yang kemanapun mereka berpetualang namun selalu memiliki kesadaran bahwa tempat mereka kembali : sebuah pertaubatan kreatif, adalah di rumah Jaguar.

Meskipun demikian, perjalanan Jaguar dalam menjalankan juklak langit sebagai kelompok kesenian bukannya tanpa kendala.
Kita bisa membayangkan seorang petani yang sekian lama menanam ketela rambat suatu kali difetakompli untuk bisa meraih gerombolan mangga di atas kepalanya. Bagaimana linunya otot hati dan kramnya urat pikiran menggapai sang mangga kreativitas tanpa harus kehilangan akar ketela spiritualitasnya.

Konsep ajaran tentang Kebaikan yang bersahaja, tanpa harus gemuruh kata-kata, tentang kepedihan yang harus disimpan dalam, etos berkarya penuh kesungguhan dan lapang dada menghadapi hujatan dari luar maupun praktek menggunting lipatan dari dalam, semuanya saya peroleh dari Jaguar.

Dan jika hingga kini Para Penggagas Jaguar masih keheranan mengapa masih banyak yang tak rela jantung Jaguar berhenti berdegup, barangkali hal itu semakin membuktikan bahwa akar kesederhanaan Jaguar mampu menjadi prototype spiritualitas sekaligus basis kreativitas sepanjang hayatnya.

Juslifar M. Junus
ScriptWriter Film-TV-Teater, Digital Artist & Videographer.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: